Salah seorang pedagang berinisial YN mengaku dirinya hidup seorang diri tanpa suami dan mengandalkan hasil berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Saya hidup sendiri, tidak ada suami. Saya mencari nafkah di sini. Kalau kami tidak boleh berdagang lagi, kami harus makan dari mana," ujarnya dengan nada sedih.
YN mengatakan dirinya tidak menolak apabila pemerintah melakukan penertiban atau pembongkaran bangunan di kawasan tersebut. Namun, ia berharap pemerintah terlebih dahulu menyediakan lokasi pengganti agar para pedagang tetap bisa mencari penghasilan.
"Kalau memang pihak kecamatan mau membongkar, kami siap,Tapi tolong berikan kami tempat untuk berdagang,"katanya.
Hal senada disampaikan pedagang lainnya, AS,yang memohon kepada Pemerintah Kota Tangerang, khususnya Wali Kota Tangerang, agar memberikan relokasi dan solusi yang layak bagi para pedagang kecil.
"Kami juga paham aturan, tetapi kami memohon agar diberikan tempat yang layak untuk berdagang sehingga kami tetap bisa mencari nafkah," ungkapnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait keluhan para pedagang, Camat Periuk Andhika Nugraha Krisyna Murti, SSTP., M.Si.belum memberikan tanggapan hingga berita ini diturunkan.
Para pedagang berharap pemerintah dapat mengedepankan pendekatan yang humanis dalam penataan kawasan Situ Bulakan dengan tetap memperhatikan aspek penataan lingkungan sekaligus keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas berdagang di lokasi tersebut.
( RED )


