LINASCAKRAWALANEWS.NET _ TANGERANG – Polresta Bandara Soekarno-Hatta menggelar kegiatan “Penguatan Komitmen Kebangsaan dalam rangka Penanggulangan dan Pencegahan Radikalisme dan Intoleransi bagi Pegawai Negeri pada Polri”, Senin (31/8/2026).
Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat komitmen personel Polri dalam mencegah serta menanggulangi penyebaran paham radikalisme dan intoleransi, baik di lingkungan internal, keluarga maupun ruang digital.
Kabag SDM Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Mujenah Apriyanti, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk membekali personel dengan kemampuan mengidentifikasi berbagai narasi yang bersifat memecah belah, ujaran kebencian, serta pola penyebaran paham radikal.
“Ujaran kebencian dan pola penyebaran paham radikal, baik di lingkungan internal, keluarga maupun ruang digital,” kata Mujenah di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus untuk menyamakan komitmen seluruh personel agar bertindak tegas dalam menolak segala bentuk intoleransi yang dapat mengancam persatuan dan stabilitas nasional.
“Sebagai anggota Polri, kita memiliki peran mendasar sebagai benteng pertahanan ideologi negara. Kita bukan hanya sekadar pelaksana tugas administratif dan penegakan hukum, melainkan penjamin tegaknya Pancasila,” tegas Mujenah.
Densus 88 Beberkan Teori Gunung Es Terorisme
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dari Direktorat Pencegahan Terorisme Densus 88 Polri yang disampaikan oleh Kompol Agus Isnaini.
Dalam paparannya, Densus 88 menjelaskan strategi penanganan terorisme melalui dua pendekatan, yakni hard approach berupa intelijen, penindakan dan penyidikan, serta soft approach melalui deradikalisasi dan pencegahan.
Densus 88 juga memaparkan sejumlah aksi terorisme yang pernah terjadi di Indonesia, mulai dari Bom Bali 2002 yang menewaskan 203 orang, Bom Sarinah pada 2016, hingga Bom Makassar pada 2021.
Agus menjelaskan proses berkembangnya radikalisasi menuju terorisme melalui konsep “IRET”, yakni Terorisme, Radikalisme, Intoleransi, dan Ekstremisme.
Selain itu, ia memaparkan sembilan media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyebarkan paham radikalisme, mulai dari kajian keagamaan, media sosial hingga game online.
“Sasaran pelaku radikalisme juga sangat beragam. Mulai dari profesional, birokrat, pengusaha, dai populer, artis, atlet, tenaga pendidik, PMI, hingga TNI/Polri dan jurnalis,” jelas Agus.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakasat Intelkam Iptu Budi Prabowo, Katim Densus 88 Iptu Antoni Hutapea, serta KBO Sat Intelkam Iptu Niko Suryawan.
(RED)
